BMT Iqtisaduna

KEUTAMAAN QURBAN DAN DALIL DISYARIATKANNYA

Qurban secara etimologis berarti : penyembelihan hewan yang dilakukan pada hari hari raya idul adha.

Secara syar’i qurban adalah penyembelihan hewan tertentu. Seperti hewan Unta, sapi, kerbau dan kambing dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengharap ridho dariNya yang dilakukan pada waktu tertentu yaitu setelah sholat idul ahda dan hari hari tasyrik (11,12,13 hijriyah).

KEUTAMAAN :

Allah SWT berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) ]الكوثر : 1-3

Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat karunia yang sangat banyak. Maka sholatlah karena tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh orang yang membencimu akan terputus (dari rahmat Allah SWT).

Dalam surat Alkautsar ini, yang pertama kali Allah SWT sebutkan adalah ni’mat karunia yang sangat banyak yang Allah SWT berikan kepada manusia baik nikmat badan , usia yang panjang dan kesehatan yang terus menerus juga ni’mat harta dan kekayaan. Kedua ni’mat ini harus kita syukuri agar ni’mat itu terus diberikan kepada kita dan bahkan akan ditambahkan lebih banyak lagi.

Allah SWT berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [إبراهيم: 7]

Artinya : Sungguh jika kamu bersyukur niscaya Kami pasti akan menambahkan ni’mat itu kepadamu.

 

Kita diperintahkan mensyukuri ni’mat badan, usia panjang dan sehat wal ‘afiyat dengan melakukan sholat dan ibadah ritual lainnya. Sedangkan mensyukuri ni’mat harta dan kekayaan dengan berqurban dan ibadah sosial lainnya.

Allah SWT berfirman

فصلّ لربك وانحر ]الكوثر : 2 [

Dari ayat diatas kita fahami bahwa :

Pertama : redaksi berqurban (انحر) diungkapkan dalam bentuk fi’il amr atau perintah. Sama dengan perintah sholat (صلّ) yang juga dalam bentuk fi’il amar atau kata kerja perintah.

Kedua : Bahwa perintah berqurban diungkapkan berdampingan dengan perintah sholat. Maka kedua hal ini menujukkan bahwa berqurban itu merupakan ibadah yang sangat penting.

Keutamaan dari pada berqurban ini juga disabdakan oleh Rasululloh SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA :

«ما عمل ابن آدم يوم النحر عملاً أحب إلى الله تعالى من إراقة الدم، إنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها، وإن الدم ليقع من الله عز وجل بمكان قبل أن يقع على الأرض، فطيبوا بها نفساً»

(رواه الحاكم وابن ماجه والترمذي، وقال: هذا حديث حسن غريب) .

Artinya : (( Tidak ada satu perbuatan yang dilakukan manusia pada hari nahr (hari raya idul adha) yang lebih dicintai oleh Allah SWT daripada penyembelihan hewan qurban, sungguh qurban itu akan hadir pada hari kiamat lengkap dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sungguh darahya telah sampai kepada Allah Azza wa Jalla sebelum darah itu menyentuh tanah, maka berbahagialah dengan sembelihan kalian ))

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA :

«ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلم بكبشين أملحين، أقرنين، فرأيته واضعاً قدميه على صِفَاحها، يُسمِّي ويكبِّر، فذبحهما بيده»

(رواه الجماعة، ورواه أحمد أيضاً عن عائشة (نيل الأوطار: 119/5، 121)) .

Artinya : (( Rasululloh SAW menyembelih 2 kambing besar yang gemuk dan bertanduk. Dan aku melihat beliau meletakkan kedua kakinya pada bagian atas badan kambing itu, lalu beliau membaca bismillah, bertakbir dan menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri))

Umat islam sepakat bahwa berqurban itu disyariatkan dalam islam, sesuai dengan hadits diatas. Dan berqurban itu merupakan amal yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah swt pada hari nahr (hari idul adha). Ia merupakan sunnah ‘amaliyyah yang dilakukan dan dicontohkan oleh Rasululloh SAW dan juga meurpakan sunnah Nabiyulloh Ibrohim.

Seperti yang difirmankan Allah SWT :

وفديناه بذبح عظيم [الصافات:107/37].

Artinya : Dan kami gantikan ismail itu dengan sembelihan yang besar.

Sumber: http://darulquran.sch.id/dqm/index.php/artikel/detail/1243 

Advertisements

MANFAAT SHOLAT

SHOLAT UNTUK PENGOBATAN DAN KESEHATAN
Selain melaksanakan perintah agama, mengobati kerinduan jiwa pada sang Pencipta, sholat juga punya efek yaitu menyehatkan tubuh. Seorang pakar ilmu pengobatan tradisional, Prof H Muhammad Hembing Wijayakusuma, telah melakukan penelitian yang mendalam tentang hal itu. Hasil penelitian itu disebarkannya kepada umat Islam, baik melalui media massa maupun buku yang berjudul “Hikmah Sholat untuk Pengobatan dan Kesehatan”. Bahkan, duduk Tasyahud diyakini bisa menyembuhkan penyakit tanpa operasi.
Apa hubungan sholat dengan kesehatan ? menurut Hembing, setiap gerakan-gerakan shalat mempunyai arti khusus bagi kesehatan dan punya pengaruh pada bagian-bagian tubuh seperti kaki, ruas tulang punggung, otak, lambung, rongga dada, pangkal paha, leher, dll. Berikut adalah ringkasan yang bermanfaat untuk mengetahui tentang daya penyembuhan di balik pelaksanaan sholat sebagai aktivitas spiritual.
1.      Berdiri tegak dalam sholat
Gerakan-gerakan sholat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan juga mampu mencegah dan meyembuhkan berbagai macam penyakit. Hembing menemukan bahwa berdiri tegak pada waktu sholat membuat seluruh saraf menjadi satu titik pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang pungggung lurus dan bekerja secara normal, kedua kaki yang tegak lurus pada posisi akupuntur, sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh.
2.      Rukuk
Rukuk juga sangat baik untuk menghindari penyakit yang menyerang ruas tulang belakang yang terdiri dari tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang dan ruas tulang tungging. Dengan melakukan rukuk, kita telah menarik, menggerakan dan mengendurkan saraf-saraf yang berada di otak, punggung dan lain-lain. Bayangkan bila kita menjalankan sholat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat sehari semalam. Kalau rakaat kita rukuk satu kali, berarti kita melakukan gerakan ini sebanyak 17 kali.
3.      Sujud
Belum lagi gerakan sujud yang setiap rakaat dua kali hingga junlahnya sehari 34 kali. Bersujud dengan meletakan jari-jari tangan di depan lutut membuat semua otot berkontraksi. Gerakan ini bukan saja membuat otot-otot itu akan menjadi besar dan kuat, tetapi juga membuat pembuluh darah dan urat-urat getah bening terpijat dan terurut. Posisi sujud ini juga sangat membantu kerja jantung dan menghindari mengerutnya dinding-dinding pembuluh darah.
4.      Duduk tasyahud
Duduk tasyahud akhir atau tawaruk adalah salah satu anugerah Allah yang patut kita syukuri, karena sikap itu merupakan penyembuhan penyakit tanpa obat dan tanpa operasi. Posisi duduk dengan mengangkat kaki kanan dan menghadap jari-jari ke arah kiblat ini, secara otomatis memijat pusat-pusat daerah otak, ruas tulang punggung teratas, mata, otot-otot bahu, dan banyak lagi terdapat pada ujung kaki. Untuk laki-laki sikap duduk ini luar biasa manfaatnya, terutama untuk kesehatan dan kekuatan organ seks.
5.      Salam Bahkan, gerakan salam akhir, berpaling ke kanan dan ke kiri pun, menurut penelitian Hembing punya manfaat besar karena gerakan ini sangat bermanfaat membantu menguatkan otot-otot leher dan kepala. Setiap mukmin pasti bisa merasakan itu, bila ia menjalankan sholat dengan benar. Tubuh akan terasa lebih segar, sendi-sendi dan otot akan terasa lebih kendur, dan otak juga mempu kembali berfikir dengan terang. Hanya saja, manfaat itu ada yang bisa merasakannya dengan sadar, ada juga yang tak disadari. Tapi harus diingat, sholat adalah ibadah agama bukan olahraga.
HUBUNGAN SHOLAT DENGAN FISIK
Shalat memang suplier rohani dan pemompa mental. Tanpa shalat, jiwa manusia mungkin saja tak mampu menanggung beban dalam menjalani hidup. Bagi orang yang kerap mengalami penderitaan, shalatlah yang menjadi tempat menumpahkan segala permasalahan, menjadi kesempatan mengadu dan waktu mencurahkan harapan. Bagi seorang pejuang, seorang juru dakwah, shalat juga yang menjadikannya kuat memikul semua masalah dan tantangan yang menghadangnya. Bersyukurlah kita, Allah SWT mewajibkan shalat lima waktu sehari. Dalam lima kesempatan itu artinya, kita memperoleh masukan energy baru. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang merasakan nikmatnya shalat.
Mungkin kita pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Berapa banyak orang yang menegakkan shalat hanya memperoleh letih dan payah” ( HR Nasa’i ). Shalat yang digambarkan Rasul dalam hadits tersebut, bukan hanya shalat yang bisa menjadi penyegar bagi jiwa. Shalat yang hanya bersifat ritual dan tidak memberikan kenikmatan bagi pelakunya. Shalat yang hanya gerakan fisik yang senyap dari kedamaian batin.
Salah satu syarat yang dapat memberi pencerahan batin,biasa disebut dengan khusyu’. Khusyu’ menurut Imam Ghazali adalah hudhurul qalbi kehadiran hati, konsentrasi, rasa tunduk, pasrah dan penghormatanyang tinggi kepada Allah SWT.
Amirul mukminin Umar ra mengatakan, “ Khusyu’ itu bukan menundukkan kepala, tapi khusyu’ itu ada di dalam hati.” Al Qur’an menyebutkan khusyu’ itu adalah tanda pertama orang-orang yang beruntung. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mukminun: 1-2). Tidak sedikit orang yang sulit menghadirkan kekhusyuan dalam shalatnya. Kita begitu dan nyaris tidak percaya, bila sahabat Rasulullah Ali rejustru melaksanakan shalat untuk menghilangkan rasa sakit ketika mata panah akan dicabut dari tubuhnya.
Orang yang belum biasa bekerja berat, akan merasa sangat sulit bekerja mencangkul dan mengolah sawah. Tangannya mungkin akan lecet, kulitnya terbakar oleh terik matahari dan seluruh tubuhnya terasa linu, itu dalam konteks pekerjaan fisik. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan konteks pekerjaan batin. Khusyu’ adalah pekerjaan batin, orang yang tidak terbiasa khusyu’, dekat, pasrah, tunduk pada Allah di luar shalat, akan sulit menghadirkan kekhusyukan di dalam shalat. Khusyu’ di dalam shalat sangat terkait dengan khusyu’ di luar shalat. Kalau hati tidak pernah hidup, tidak ada link hubungan dengan Allah di luar shalat, tentu sulit menjalin hubungan yang baik hanya dalam shalat. Bagaimna kita merasakan nikmatnya bertani, mencangkul tanh, seperti yang dirasakan para petani, kalau kita sebelumnya jarang melakukan pekerjaan tersebut,? Begitu lebih kurang gambarannya, itulah rahasianya kenapa kita sulit khusyu’. Khusyu’ kepada Allah tidak hanya dengan menyebut Subhanallah, Alhamdulillah atau Allahu Akbar. Khusyu’diwujudkan dengan hati yang senantiasa berhubungan denagn Allah, meskipun lidah tidak menyebut nama Allah. Melihat ciptaan Allah, hati merasakan kebesaran Allah. Melihat peristiwa apapun semakin menyuburkan ingatan kepada Allah. Mendapat nikmat, hati mengatakan, “Syukur Allah tidak menjadikan aku menderita.” Hati tersentuh dan malu bila melakukan ketidaktaatan. Bila ditimpa musibah, hati mengatakan, “Mungkin saya berdosa pada Allah.” Sikap sikap seperti itulah yang semakin menambah kedekatan hatidengan Allah SWT. Itulah yang dimaksud dalam firman-Nya, “Mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan berbarung.” Itulah sebabnya para ahli ibadah mengatakan, aku merasa damai meskipun sendiri.” Kenapa? Karena mereka dalam kondisi terus berdzikir dengan melihat semua fenomena alam dan hatinya mengingat Allah Jalla Wa’ala.
Ibarat orang yang sayang dan rindu kepada kekasihnya, setiap barang kepunyaan kekasihterlihat di depan mata membuat hati ingat dan terkait dengan kekasih. Kalau sudah ada benih khusyu’ di luar shalat, maka saat berwudhu pun sudah khusyu’.
Seorang muslim harus berusaha menghidupakan kedekatan hatinya denagan Allah, kapan pun dan dimanapun. Tokoh ulama Mesir Hasan Al Banna menyifatkan karakter seorang mujahid adalah bukan orang yang tidur sepenuh kelopak matanya, dan tidak tertawa selebar mulutnya. Maksudnya itu menggambarkan suasana keseriusan dan kesungguhan orang yang berjuang di jalan Allah. Apa rahasia dibalik kesungguhan dan keseriusan itu? Dalam shalat mereka sangat membesarkan dan mengagungkan Allah. Di luar shalat mereka juga tetap membesarkan Allah, hidup sesuai syari’at, menjauhkan diri dari kemungkaran dan maksiat. Maka Allah akan menaungi mereka, sebab ada hubungan sangat erat antara shalat dan perilaku-perilaku sosial. Merekalah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungan-Nya dengan orang tersebut.” ( HR. Hakim )
HUBUNGAN SHOLAT DENGAN MENTAL & KECERDASAN
Ibadah shalat adalah ajaran agama yang diwahyukan dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu ibadah shalat pasti mempunyai banyak hikmah didalamnya. Kalau kita pelajari al-Qur’an dan as-Sunnah maka akan kita temukan penjelasan tentang hikmah dari pelaksanaan ibadah shalat, diantaranya yaitu pengaruh pelaksanaan terhadap kesehatan mental manusia. Dengan shalat manusia menyerahkan diri kepada-Nya, hal ini akan membantu dalam meredakan ketegangan emosi manusia, karena seorang mukmin mempunyai keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan memecahkan problem-roblemnya, memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan membebaskan diri dari kegelisahan dan kerisauan yang menimpanya. Menghadap kepada Allah melalui shalat dan berdoa kepada-Nya dengan harapan dikabulkan akan menimbulkan otosugesti yang akan meredakan ketegangan emosi dan kegoncangan jiwa yang terjadi pada manusia. Fungsi shalat yaitu :
1.      Shalat sebagai sebagai pengobat gangguan jiwa dan penyakit jiwa,
2.      Fungsi ibadah shalat sebagai pembinaan kesehatan jiwa, dan
3.      Fungsi shalat sebagai pencegah gangguan dan penyakit jiwa.
Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat (seutuhnya), padahal tidaklah dicatat baginya (oleh malaikat Raqib [pencatat amal baik]), kecuali setengah shalat, atau sepertiganya, atau seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Anda sering menunaikan shalat, bukan? Pagi-sore, siang-malam, bertahun-tahun, Anda sudah mengerjakannya. Jutaan kali telah Anda tundukkan badan dalam ruku’ dan sujud. Jutaan kali pula telah Anda baca bermacam-macam dzikir dan doa di dalam shalat. Hanya saja, bagaimana kualitas shalat Anda? Dalam perhitungan atau perkiraan Anda sendiri, seberapa besar bagian dari shalat Anda yang dinilai baik oleh malaikat pencatat amal dan memberikan pengaruh positif pada kehidupan Anda?
Anda pun pasti telah tahu besarnya manfaat shalat terhadap diri Anda sendiri. Bahkan kendati di dalam ibadah ini Anda hanya menggerakkan badan bagai robot, kegiatan ini pun sudah berguna. Sekurang-kurangnya, menyehatkan raga. Begitu pula jika Anda perlakukan shalat sebagai semacam meditasi. Sekurang-kurangnya, menyehatkan jiwa.
Tetapi, shalat secara hakiki tidak sekadar bermanfaat menyehatkan jiwa-raga (fisik, emosional, dan spiritual). Tahukah Anda bahwa dengan menunaikan shalat yang berkualitas, Anda akan mencapai beragam jenis kecerdasan? Bukan hanya kecerdasan pikiran (intelegensia/IQ), tetapi sekaligus kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan sosial.
Bagaimana semua jenis kecerdasan tersebut bisa direngkuh melalui shalat? Buku ini sangat berbeda dengan buku-buku tentang hikmah shalat yang telah beredar, karena secara metodologis buku ini fokus pada kajian bagaimana terciptanya hubungan antara shalat sebagai ibadah dengan kecerdasan manusia sebagai kekuatan pikiran dan jiwa. Di samping itu, kekuatan buku ini juga terletak pada ditampilkannya rangkaian panduan praktis guna menjalankan shalat yang mampu melejitkan semua jenis kecerdasan manusia (shalat SMART). Karena itu, buku ini sangat aplikatif, metodis, dan dapat langsung Anda terapkan untuk meningkatkan mutu shalat dan sekaligus kecerdasan Anda!
SHOLAT SEBAGAI KOMUNIKASI SPIRITUAL DENGAN PENCIPTA
Dua tahun sebelum Hijrahnya Nabi ke Madinah, merupakan saat-saat yang super sulit dalam perjuangan beliau untuk menyebarkan kebenaran. Tekanan, intimidasi, bahkan upaya pembunuhan kepada beliau pribadi mengalami intensitas puncak, seiring dengan kematian dua benteng internal da’wah setelah Allah, Khadijah dan Abu Talib. Bagi Rasulullah, serasa dunia ini suram dan terasa sumpek dalam melangkan kaki perjuangan. Terasa da’wah mengalami stagnasi abadi. Dalam situasi inilah beliau diperjalankan melalui wadah “Isra’ mi’raj” di suatu malam dari masjidil haraam di Mekah ke masjidil Aqsa di Jerusalem, dan dari Jerusalem beliau diangkat menuju “Sidratul Muntaha” untuk melakukan komunikasi langsung, dialog nurani dengan sang Penciptanya. Komunikasi dan dialog nurani inilah yang terkristalkan dalam sebuah amalan ritual Islam yang dikenal shalat.
Shalat, yang secara lughowi (makna kata) berarti “hubungan atau komunikasi” kemudian menjadi amalan ritual terpenting dalam agama Islam. Selain dikenal kemudian sebagai “Pilar agama” (‘imaaduddin), juga merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Menjalankan shalat merupakan kewajiban ‘aini (setiap individu Muslim), melalaikannya merupakan “pengrusakan” terhadap dasar-dasar keislaman seseorang.
Melakukan shalat bukan sekedar melakukan gerakan-gerakan atau membaca bacaan-bacaan formal semata. Melainkan melakukan kegiatan “syamil” (komperenhesif) dan “mutawazin” (imbang) di antara tiga unsur kemanusiaan kita. Shalat mencakup kegiatan fisik, ruh, dan juga fikiran. Ketiga hal ini adalah pilar-pilar kehidupan manusia, yang justeru ketiganya bersatu padu dalam amalan shalat yang dilakukan.
Di saat ketiga unsur hidup manusia itu menyatu dalam sebuah pergerakan terpadu, di situlah akan menumbuhkan “keseimbangan” pergerakan hidup manusia. Keseimbangan ini yang kemudian menjadi pijakan kehidupan manusia yang sehat. Hanya dengan hidup yang imbang, manusia mampu mendapatkan kehidupan yang sehat secara paripurna. Selain tumbuhnya kehidupan yang sehat secara paripurna, dengan keterlibatan tiga unsur tadi, manusia menjalin komunikasi paripurna pula dengan Sang Pencipta. Komunikasi paripurna ini yang kemudian dikenal dalam bahasa agama sebagai “ khusyuu’”. Khusyu menjadi “hati” shalat yang dilakukan. Shalat yang tidak memiliki khusyu’ ibarat manusia yang tidak berhati. Manusia yang tidak lagi berfungsi nuraninya, sehingga pandangannya akan selalu tertumpu pada hal hal lahiriyah semata.
Di saat mata nurani menjadi tumpul atau buta, maka lahiriyah akan menjadi sosok yang buas. Kehidupan yang tidak memiliki “mata nurani” adalah kehidupan hewani, bahkan lebih rendah nilainya dari kehidupan hewani. Dan jika ini terjadi, manusia yang awalnya diciptakan dengan pencptaan yang terbaik, dimuliakan, dan memiliki keunikan-keunikan, terjatuh ke lembah kehinaan yang paling rendah (asfala saafilin). Oleh karenanya, shalat bukan hanya dikerjakan, tapi seharusnya “didirikan” setiap saat. Formalitasnya memang ada lima waktu, tapi seharusnya shalat itu tegak dalam kehidupan kita di 24 jam 7 hari sepekan. Maka, ada “shalat di antara shalat-shalat” (shalaatul wustha) yang kita lakukan. Shalat “Wustha” (in between) adalah tegaknya relasi dan komunikasi antara hamba dan Rabbnya di setiap saat dan ruang. Bahkan keluar masuknya nafas seorang hamba seiring dengan “ kesadaran penghambaan” terhadap Rabbnya.
Eternalitas relasi di atas akan menjadi “benteng” kehidupan seorang Muslim, sekaligus menjadi “basis” kesalehan hidupnya. Dia menjadi solid dalam kebajikan serta terlindung dengan lindungan kokoh “kesadaran Ilahi”. Dia akan memiliki pandangan mata “nurani” yang sangat tajam, serta memiliki “intelektual hati” yang tinggi.
Dengan bekal soliditas perlindungan dari kejatatan-kejahatan dan soliditas basis kebajikan kebajikan, serta dibarengi oleh kesadaran Ilahi dan inteletualitas hati, dia akan menjalani kehidupannya dengan penuh konsistensi di atas ridha Ilahi. Konsistensi perjalanan hidup di atas ridha inilah yang disebut “taqwa” , yang merupakan cita-cita tertinggi dalam kehidupan beragama. Cita-cita tertinggi yang diperjuangkan hingga hembusan nafas terakhir di bumi yang fana ini.
KEUTAMAAN SHOLAT TEPAT WAKTU
            Berikut penjabaran salat dalam perspektif pengobatan ilmu cina
1.      Sholat Subuh
Pukul 05.00-06.00 saat salat subuh merupakan waktu yang baik untuk menerapi pencernaan.
2.      Sholat Zuhur
Pada waktu sholat zuhur, ada energi api yang keluar pada diri pukul 12.00 sampai sore yang bermanfaat bagi jantung dan ginjal.
3.      Sholat Ashar
Dalam gerakan sholat ashar, terdapat siklus dari panas ke dingin yang berguna bagi terapi kandung kemih. Secara alamiah, gerakan sholat ashar ternyata memisahkan zat-zat kimia dalam tubuh kita.
4.      Sholat Maghrib
Ada energi air yang keluar pada pukul 18.00 setelah terbenamnya matahari. Menurut pengobatan ilmu cina waktu maghrib yang disertai gerakan sholat sekaligus menerapi ginjal.
5.      Sholat Isya’
Sholat isya’ dilaksanakan setelah matahari terbenam. Waktu ini disebut dapat mengurangi kelebihan energi. Dan ada energi kayu yang keluar pada pukul 23.00 yang mampu menghancurkan racun-racun ditubuh. Menurut pengobatan ilmu cina, racun itu dibakar kayu untuk membuang racun di otak.

KEUTAMAAN MENCARI REZEKI YANG HALAL

Keutamaan Mencari Rezeki yang Halal

1. Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

2. Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim).

3. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad).

4. Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)

5. Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)

6. Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

7. Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (Mutafaq’alaih)

8. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. (HR. Bukhari)

9. Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya. (HR. Al-Baihaqi).

10. Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki. (HR. Ath-Thabrani)

11. Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)

12. Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi hari mereka (bangun fajar). (HR. Ahmad)

13. Barangsiapa menghidupkan lahan mati maka lahan itu untuk dia. (HR. Abu Dawud dan Aththusi).

14. Carilah rezeki di perut bumi. (HR. Abu Ya’la)

15. Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku). (HR. Asysyihaab)

16. Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)

17. Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)

18. Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas). (HR. Ahmad).

Sumber:

http://jalansunnah.wordpress.com/2011/11/26/kewajiban-mencari-rezeki-yang-halal/

ZAKAT

Zakat merupakan salah satu rukun islam yang wajib dijalankan, dan dinyatakan dalam al-Quran secara bersamaan dengan shalat sebanyak 82 ayat. Pada masa permulaan islam di Mekah, kewajiban zakat ini masih bersifat global dan belum ada ketentuan mengenai jenis dan kadar (ukuran) harta yang wajib di zakati. Hal itu untuk menumbuhkan kepedulian dan kedermawanan umat islam. Zakat baru benar-benar diwajibkan pada tahun 2 Hijriah, namun ada perbedaan pendapat mengenai bulannya. Pendapat yang masyhur menurut ahli hadis adalah pada bulan syawal tahun tersebut.
Adapun landasan kewajiban zakat disebutkan dalam Al Qur’an, Sunnah dan Ijma Ulama:
      AL QUR’AN 
·         Surat Al-Baqaraah ayat 43:
وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ ﴿٤٣﴾
Artinya: “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’“.
·         Surat At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١٠٣﴾
Artinya: “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’amu dapat memberikan ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“.
·         Surat Al An’aam ayat 141: Artinya:
كُلُواْ مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴿١٤١﴾
Makanlah buahnya jika telah berbuah dan tunaikan haknya (kewajibannya) dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)“.
 
      SUNNAH
·         Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar: Artinya: “Islam dibangun atas lima rukun: Syahadat tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad saw utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan puasa Ramadhan“.
·         Hadist diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ali ra: Artinya: “Sesungguhnya Allah mewajibkan (zakat) atas orang-orang kaya dari umat Islam pada harta mereka dengan batas sesuai kecukupan fuqoro diantara mereka. Orang-orang fakir tidak akan kekurangan pada saat mereka lapar atau tidak berbaju kecuali karena ulah orang-orang kaya diantara mereka. Ingatlah bahwa Allah akan menghisab mereka dengan keras dan mengadzab mereka dengan pedih“.
      IJMA
Ulama baik salaf (klasik) maupun khalaf (kontemporer) telah sepakat akan kewajiban zakat dan bagi yang mengingkarinya berarti telah kafir dari Islam.
 
SYARAT-SYARAT WAJIB ZAKAT
Syarat-syarat wajib zakat adalah:
a.       Syarat utama dari semua jenis zakat ialah beragama Islam.
b.      Aqil
c.       Baligh
d.      Memiliki hak penuh atas harta yang wajib zakat. Pada hakekatnya kepemilikan mutlak pada harta adalah Allah swt, tetapi Allah swt memberikan hak kepemilikan harta kepada manusia secara terbatas. Harta yang dimiliki manusia secara penuh maksudnya bahwa manusia berkuasa memiliki dan memanfaatkannya secara penuh. Pemilikan dan pemanfaatan harta harus sesuai dengan aturan-aturan Islam.

e.       Mencapai nishab. Kekayaan yang belum mencapai nishab tidak terkena kewajiban zakat. Karena ketika seseorang belum memiliki kekayaan yang mencapai nishab, berarti masih masuk kategori miskin dan berhak mendapat zakat. Sedangkan ketika kekayaan mencapai nishab berarti sudah dapat mencukupi untuk kehidupan sehari-hari dalam waktu satu tahun. Sehingga ketika dikenakan zakat tidak akan membahayakan dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Rasulullah saw bersabda: Artinya: “Tidak wajib zakat kecuali orang kaya” (HR Bukhari, mualaq dan Ahmad, mausul). Dengan demikian, ukuran kaya di dalam Islam tidak harus menjadi kaya raya dan menunggu menjadi konlomerat untuk mau berzakat, melainkan setiap muzakki yang memiliki nisab harta sudah harus merasa kaya dan berkewajiban zakat.

 
MACAM-MACAM ZAKAT
Secara garis besar zakat itu ada dua macam, yaitu:
1.      Zakat mal (zakat harta),  yaitu zakat tumbuh-tumbuhan, (biji-bijian dan buah-buahan), zakat binatang ternak, zakat emas dan perak (perhiasan) dan zakat perniagaan.
a.       Tumbuh-tumbuhan

Allah menjadikan tumbuhan-tumbuhan dan buah-buahan tersebut sebagai sumber rezeki dan kehidupan menusia, sehingga ahli ekonomi di Barat menyerukan satu-satunya wajib pajak pada hasil pertanian tidak pada yang lain karena mereka menganggap ia merupakan sumber utama bagi kehidupan manusia. Zakat hasil pertanian tidak disyaratkan terpenuhinnya satu tahun, melainkan hanya disyaratkan setelah panen, sebab ia merupakan hasil bumi atau hasil pengolahan bumi.

Adapun hadis yang disyariatkan zakat pertanian diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw, beliau bersabda:
فِيْمَا سَقَتَ السَّمَاءَ وَاْلعِيُّوْنَ أَوْ كَانَ عثريا الشر وما سقي بالنضع نصف العشر

(zakat penghasilan) dalam segala hal yang diairi (hujan dari) langit dan mata air, atau rawa-rawa, adalah sepuluh persen (sepersepuluh), sedangkan yang disiram (dengan menggunakan unta dan sejenisnnya. Maka zakatnnya adalah lima persen (seperduapuluh)

Maksudnya kadar zakat dari hasil pertanian adalah 10% apabila diairi tanpa mengeluarkan tenaga seperti air hujan atau air sungai, dan 5% apabila diairi dengan cara mengeluarkan biaya dan jerih payah hewan ataupun manusia seperti air sumur.
Hasil pertanian dari jenis biji-bijian dan buah-buahan wajib dizakati, jika memenuhi syarat (1) Tanamannya dari jenis yang dapat ditakar dan dapat disimpan, seperti gandum dari jenis biji-bijian, kurma dan anggur dari jenis buah-buahan. Adapun dari jenis tanaman yang tidak bisa ditakar dan tidak dapat disimpan seperti sayur-mayur dan sejenisnnya maka tidak wajib dizakati. (2) Sampai nishab yaitu 663 kg (3) Tanaman tersebut dimiliki oleh orang yang wajib zakat, adapun waktu yang wajib mengeluarkan zakatnya adalah ketika telah tampak hasil yang baik, yaitu ketika buah-buahan telah menguning atau memerah dan ketika biji-bijian telah padat berisi dan mengering.
b.      Zakat binatang ternak
Para ahli fiqih sependapat bahwa hewan ternak mencakup unta, lembu, kerbau, kambing, dan biri-biri wajib dizakati. Sedang selain dari binatang tersebut ada perbedaan pendapat, begitu pula tentang hasil perikanan karena tidak ada penjelasannya dalam nash.
                Ulama berijtihad bahwa semua hasil peternakan dan perikanan bila telah mencapai jumlah nisab wajib zakat.
           Dalam al-Qur’an disebutkan:
آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ       
 
“orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu”
                                                   
Adapun nishab dari binatang-binatang tersebut adalah:
1.      Nishab lembu dan kadar`zakatnya
Kata sebagian ulama: tak ada zakat untuk lembu yang kurang dari 50 ekor. Jika ada 50 ekor, maka zakatnya, seekor lembu. Dan pada seratus ekor dan demikinlah pada tiap-tiap 50 ekor, seekor lembu. Dan tak ada zakat sebelum sampai 50 ekor.
        Kata segolongan pula, tak ada zakat terhadap lembu hingga ia berjumlah 30 ekor. Terhadap 30 ekor, seekor tabi’[7]. Dan apabila sampai 40 ekor, seekor lembu betina musinah[8]. Terhadap 60 ekor, 2 ekor tabi’. Terhadap 70 ekor, seekor musinah dan seekor tabi’. Demikianlah pendapat Malik, Asy-Syafi’I, dan Ahmad.
        Pendapat beliau disini lebih kuat: mengingat hadis dari Mu’adz:
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَهُ إِلَى اليَمَنِ وَأَمَرَهُ أَنْ يأْ جُذَ مِنْ كُلِّ ثَلاَ ثِيْنَ مِنَ البَقَرِ تَبِيْعًا وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِيْنَ مُسِنَّةً.

Sesungguhnya Rasulullah telah megutus Mu’adz pergi ke Yaman dan menyuruhnya mengambil dari tiap-tiap 30 ekor lembu, seekor tabi’ dari tiap-tiap 40 ekor lembu, seekor musinah”.

 
2.      Nhisab kambing dan kadar zakatnya
Tidak wajib zakat, terhadap kambing hingga ia berjumlah 40 ekor. Apabila seseorang memiliki 40 ekor hingga 120 ekor, maka zakatnya seekor kambing, dst.
 
 
 
c.       Zakat emas dan perak
Emas dan perak termasuk barang berharga yang wajib dizakati. Emas, zakatnya tidak dikeluarkan kecuali mencapai 85 gram. Perak tidak dikeluarkan zakatnya kecuali mencapai 595 gram[10]. Karena upaya yang dicurahkan untuk mengembangkan uang (dari emas dan perak lebih sukar dan lebih banyak biayanya dibandingkan dengan harta lainnya, maka kadar zakat yang diwajibkan pada uang (dari emas dan perak) tersebut adalah 25%.
Seperti dalam hadis:
وَفِى ا لرِّقَةِ فِى مِائَتِى دِرْهَمٍ رُبْعُ العُشْرِ, فَاِ نْ لَمْ تَكُنْ اِلّاَ تِسْعِيْنَ وَمِا ئَةٍ فَلَيْسَ فِيْهَا صَدَ قَةٌ اِلاَّ اَنْ يَشَا ءَ رَبُّهَا
Adapun zakat perak, maka dalam setiap 200 dirham:”dua setengah persennya”. Jika yang ada hanya 190 dirham saja, maka tidak perlu dizakati, kecuali bila pemiliknya berkehendak sebagai suatu sedekah saja”.
 
Syarat dan Nisab Zakat Emas dan Perak
1.      Syarat zakat emas dan perak, mencapai nisab dan cukup haul
2.      Nisab emas.
Nabi saw bersabda:
لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ- يَعْنِي فِي الذَّ هَبِ – حَتَّي يَكُوْنَ لَكَ عِشْرُوْنَ دِيْنَارًا, فَاِذَا كاَنَ لَكَ عِشْرُوْنَ دِيْناَرًا وَحَالَ عَلَيْهَا ا لحَوْلُ, فَفِيْهَا نِصْفُ دِيْنَارٍوَالدِّيْنَارُوَزْنُهُ مِثْقَالٌ.
Tidak wajib bagimu- pada emas- hingga kamu memiliki 20 dinar[11], bila telah memiliki 20 dinar dan telah cukup haul, zakatnya ½ dinar. Dan satu dinar sama dengan satu mitsqal. (H.R Abu Daud).
 
3.      Nisab Perak
Nabi saw. Bersabda:
إِ ذَاكاَنَتْ لَكَ مِا ئَتادِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا ا لحَوْلُ، فَفِيْهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمُ.
“Apabila kamu memiliki 200 dirham[12]dan cukup haul maka zakatnya 5 dirham” (H.R Abu Daud)
2.      Zakat fitrah atau zakat jiwa yaitu zakat yang dikeluarkan berdasarkan jumlah jiwa atau anggota keluarga. Zakat fitrah ini dikeluarkan pada saat selesainya melaksanakan puasa Ramadhan.
Pada setiap hari raya idhul fitri, setiap orang islam, laki-laki dan perempuan, besar kecil, merdeka atau hamba, diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak 3,1 liter dari makanan yang mengeyangkan menurut tiap-tiap tempat (negeri).
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكاَةَالْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى الناَّسِ صاَعاً مِنْ تَمْرٍ اَوْصَاعاً مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ اَوْعَبْدٍ ذَكَرٍ اَوْاُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ – رواه البخارى ومسلم. وفى البخارى وكان يُعْطُوْنَ قَبْلَ الفِطْرِ بِيَوْمٍ اَوْ يَوْ مَيْنِ.
Dari Ibnu Umar. Ia berkata, “Rasulullah Saw. Mewajibkan zakat fitri (berbuka) bulam Ramadhan sebanyak satu sa’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Bukhari di sebutkan “mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya”.
 
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَا ةَ الفِطْرِ صَا عاًمِنْ طَعَا مٍ اَوْصَاعًامِنْ شَعِيْرٍاَوْصَاعًامِنْ تَمَرٍ اَوْصَاعًا مِنْ اَقِطٍ اَوْصاَعًا مِنْ زَبِيْبٍ.
“Dari Abu Sa’id Ia berkata, “Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sa’[13] dari makanan, gandum, kurma, susu kering, atau anggur kering.” (Diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim).
 
Dari dua hadis di atas jelas bahwa yang di maksud oleh Rasulullah Saw.
Jadi ukuran zakat fitrah adalah ukuran takaran bukan ukuran timbangan. Penyelidikan ulama-ulama tentang ketentuan banyaknya zakat fitrah dengan timbangan kurang teliti (kurang tepat) karena berat beras satu sa’ dari beberapa jenis beras tentu tidak sama, apalagi kalau di bandingkan dengan satu sa’ jagung sudah tentu berjauhan timbangannya walaupun takarannya sama.
 

Keutamaan Dan Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, dan didalamnya terdapat suatu malam yang sangat mulia. Suatu malam dimana Alloh SWT menurunkan Al-Qur’an ke dunia sebagai pedoman dan petunjuk umat manusia. Malam tersebut adalah Malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Alloh SWT, yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan atau 30.000 kali malam biasa. Pada malam itu malaikat-malaikat Alloh turun ke dunia untuk mengatur segala urusan. Berikut adalah Keutamaan dan Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥
 

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadar: 1 – 5)

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Qadar bahwa malam Lailatul Qadar bernilai lebih baik dari seribu bulan. Hal ini berarti amal ibadah yang dilakukan di malam Lailatul Qadar akan memiliki pahala yang senilai apabila kita mengerjakanya selama seribu bulan. Subhanalloh…

Alloh SWT juga mengabarkan bahwa pada malam itu turunlah malaikat Jibril dan ruh. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar dan pentingnya malam ini karena turunnya malaikat tidak terjadi kecuali untuk perkara yang besar. Kemudian Alloh SWT mensifati malam tersebut dalam firman-Nya :

سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥
Artinya : “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadar: 5)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ

Artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS Ad Dukhan [44] : 3-4)

Hal ini menunjukkan bahwa pada malam tersebut penuh dengan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya hingga terbitnya fajar. Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak. Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam Lalilatul Qadar.

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Kita sebagai umat islam tentu akan sangat beruntung apabila dapat menjumpai malam Lailatul Qadar dengan diisi amal ibadah dan kebajikan. Kedatangan malam Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Alloh SWT. Malam itu bisa datang kapan saja di bulan Ramadhan. Namun Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mencarinya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan terutama pada malam-malam ganjil. Dalam sebuah hadist diriwayatkan :

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan HR Muslim)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa, tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.” (HR Bukhari)

Ada beberapa tanda akan turunya malam Lailatul Qadar. Seperti dijelasakan dalam banyak hadist. Rasulullah SAW bersabda :

Dari Ubay ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah (setengah bejana).” (HR Muslim 1170)

Dan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).

Pada malam Lailatul Qadar kita dapat mengisinya dengan melakukan berbagai amal ibadah seperti sholat malam, berdzikir, membaca Al-Qur’an. Rasulullah SAW biasa ber i’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir Ramadhan.

Aisyah r.a. berkata, “Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau.” (HR Bukhari)

Di masjid Rasulullah SAW melakukan shalat wajib dan sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdo’a, dan sebagainya.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari)

Kaum muslimin sering berbeda pendapat dalam menentukan awal Ramadhan. Sehingga akan berbeda pula perhitungan malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu akan lebih baik apabila kita mengisi setiap malam di bulan Ramadhan dengan amal ibadah dan kebajikan.

sumber : http://media-islam.or.id/2011/08/02/keutamaan-malam-lailatul-qadar-tanda-tanda-dan-waktunya/

TENTANG PUASA

Kitab Puasa

Bab 1: Wajibnya Puasa Ramadhan Dan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(al-Baqarah: 183)
 
917. Ibnu Umar r.a. berkata, “Nabi puasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan supaya orang berpuasa padanya.” (Dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Pada hari Asyura itu orang-orang jahiliah biasa berpuasa 5/154). Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, ditinggalkannya puasa Asyura.’ (Dan, dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Orang yang mau berpuasa, ia berpuasa; dan barangsiapa yang tidak hendak berpuasa, maka dia tidak berpuasa.’) Biasanya Abdullah (Ibnu Umar) tidak puasa pada hari itu, kecuali kalau bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa pada hari itu.”
 
Bab 2: Keutamaan Puasa
 
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada ‘9 – BAB’.”)
 
Bab 3: Puasa Itu Adalah Kafarat (Penghapus Dosa)
 
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Hudzaifah yang tertera pada nomor 293 di muka.”)
 
Bab 4: Pintu Rayyan Itu Khusus Untuk Orang-Orang yang Berpuasa
 
918. Sahl r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana 4/88) ada pintu yang disebut Rayyan, yang besok pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, ‘Dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya.”
 
919. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi nafkah dua istri (dengan apa pun 4/193) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini lebih baik.’ (Dan dalam satu riwayat: Ia akan dipanggil oleh para penjaga surga, yakni oleh tiap-tiap penjaga pintu surga, ‘Hai kemarilah.’ 2/213). Barangsiapa yang ahli shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang ahli jihad, maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang ahli puasa, maka ia dipanggil dari (pintu puasa dan) pintu Rayyan. Dan, barangsiapa yang ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar berkata, “(Tebusan) engkau adalah dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Apakah ada keperluan bagi yang dipanggil dari seluruh pintu itu? Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu itu?” (Dalam satu riwayat: “Wahai Rasulullah, itu yang tidak binasa?”) Beliau bersabda, “Ya, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka.”
 
Bab 5: Apakah Boleh Disebut Ramadhan Saja ataukah Bulan Ramadhan? Dan, Orang yang Berpendapat bahwa Hal Itu Sebagai Kelonggaran
 
Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan.”[1]
 
Beliau juga pernah, “Janganlah kamu semua mendahului Ramadhan (yakni sebelum tibanya).”[2]
 
920. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit (dalam satu riwayat: pintu-pintu surga) dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai.”
 
 
Bab 6: Orang yang Berpuasa Ramadhan Karena Iman dan Mengharapkan Pahala dari Allah Serta Keikhlasan Niat
 
Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Orang-orang akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan niatnya.”[3]
 
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 26 di muka.”)
 
Bab 7: Nabi Paling Dermawan pada Bulan Ramadhan
 
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 4 di muka.”)
 
Bab 8: Orang yang Tidak Meninggalkan Kata-kata Dusta dan Pengamalannya di Dalam Puasa
 
921. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minunmya.'”
 

 

Tentang Nasihat Kubur Kepada Manusia

Inti pengajian pada pagi hari ini adalah mengenai, “Nasihat kubur kepada manusia”, diantaranya:
1. Aku adalah tempat yg paling gelap diantara yang gelap, maka terangilah aku dengan “TAHAJUD”.
2. Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber “SILATUHRAHMI”
3. Aku adalah tempat yg paling sepi maka ramikanlah aku dengan perbanyak baca “AL-QUR’AN”
4. Aku adalah tempatnya binatang-binatang yg menjijikkan, maka racunilah ia dengan amal “SHODAQAH”
5. Aku yang menjempitmu hingga hancur bilamana tidak shalat, bebaskanlah jepitan itu dengan “SHALAT”
6. Aku adalah tempat untuk meredammu dengan cairan yg sangat amat sakit, bebaskalah rendaman itu dengan “PUASA”
7. Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka persiapkanlah jawabanmu dengan perbanyak mengucapkan kalimat “LAAILAHAILALLAH MUHAMMADURRASULULLAH”